Bandar Lampung, Oktober 2026 — Dalam upaya memperkuat peran komunitas dalam mendukung keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO), ILS Lampung menyelenggarakan Pelatihan Penyegaran Patient Supporters (PS) TBC RO Program Global Fund (GF) TB Konsorsium Komunitas PB-STPI di Hotel Emersia, Bandar Lampung. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi Patient Supporters agar mampu menjalankan peran pendampingan secara optimal, terarah, dan berkelanjutan bagi pasien TBC RO.
Patient Supporters merupakan bagian penting dari dukungan komunitas dalam penanggulangan TBC RO. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari penyintas TBC RO, kader kesehatan, hingga relawan yang memiliki empati dan kepedulian terhadap pasien. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai, PS diharapkan mampu memberikan dukungan yang tidak hanya berfokus pada kepatuhan pengobatan, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan pasien selama menjalani proses pengobatan hingga dinyatakan sembuh.
Dian Sugianto, selaku PMELC ILS Lampung, menjelaskan bahwa pelatihan penyegaran pada Oktober 2026 dilaksanakan di tingkat provinsi dengan melibatkan seluruh Patient Supporters aktif dari 11 kabupaten/kota berdasarkan data Triwulan III tahun 2026.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan secara terpusat menjadi pilihan strategis mengingat jumlah PS aktif di hampir seluruh kabupaten/kota masih terbatas, yakni sekitar satu hingga tiga orang. Melalui kegiatan ini, seluruh peserta dapat memperoleh pembaruan pengetahuan secara bersama-sama, menyamakan pemahaman mengenai standar pendampingan, serta berbagi pengalaman dan tantangan yang dihadapi di lapangan.
“Pelatihan penyegaran ini menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas seluruh Patient Supporters aktif, menyatukan pemahaman, serta memperkuat kualitas pendampingan pasien TBC RO di wilayah kerja masing-masing,” ujar Dian Sugianto.

Dalam sambutan pembukaan, Direktur ILS, Sudiyanto, S.Sos., menegaskan bahwa terdapat tiga keluaran utama yang harus dicapai melalui pelatihan penyegaran tersebut.
Pertama, Patient Supporters diharapkan mampu memastikan pendampingan pasien dimulai paling lambat tujuh hari sejak pasien terdiagnosis TBC RO. Pendampingan tersebut harus dilakukan secara konsisten hingga pasien menyelesaikan pengobatan, termasuk memastikan keberlanjutan dukungan serta memantau pembayaran enabler sesuai mekanisme program yang berlaku.
Kedua, PS diharapkan mampu melaksanakan investigasi kontak yang terintegrasi dengan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), khususnya bagi kontak serumah pasien TBC RO yang didampingi. Upaya ini menjadi bagian penting dalam pencegahan penularan TBC dan perlindungan kesehatan anggota keluarga pasien.
Ketiga, PS perlu meningkatkan sosialisasi dan memastikan penggunaan aplikasi atau sistem Lapor TBC secara optimal oleh pasien TBC RO yang didampingi. Pemanfaatan Lapor TBC diharapkan dapat memperkuat akses terhadap informasi dan layanan, sekaligus mendukung keterlibatan pasien dalam proses penanggulangan TBC.
Untuk mencapai ketiga keluaran tersebut, pelatihan dirancang mencakup sejumlah materi teknis dan penguatan keterampilan pendampingan. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai tatalaksana kasus TBC RO, manajemen efek samping obat, serta tata cara pencegahan dan pengendalian infeksi TBC di komunitas.
Selain aspek klinis dan pencegahan penularan, pelatihan juga menekankan mekanisme pendampingan sejak pasien terdiagnosis, pemantauan pengobatan hingga tuntas, serta pemantauan pembayaran enabler. Materi ini dilengkapi dengan evaluasi pelaksanaan pendampingan selama tahun 2026 untuk mengidentifikasi kendala, merumuskan pembelajaran, dan menyusun langkah-langkah perbaikan ke depan.
Penguatan keterampilan komunikasi motivasional turut menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Melalui materi tersebut, Patient Supporters diharapkan mampu membangun komunikasi yang efektif, empatik, dan tidak menghakimi, sehingga pasien merasa didukung dalam menghadapi tantangan selama menjalani pengobatan. Keterampilan ini juga diperlukan untuk mendorong keterlibatan keluarga dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan investigasi kontak.
Pada aspek pencegahan, peserta mendapatkan penguatan teknis mengenai implementasi Investigasi Kontak Terintegrasi TPT. Pembahasan mencakup evaluasi pelaksanaan oleh PS sepanjang tahun 2026, identifikasi hambatan di lapangan, serta penyusunan tindak lanjut untuk meningkatkan cakupan investigasi kontak dan akses terhadap TPT bagi kontak yang memenuhi kriteria.
Sementara itu, materi mengenai Lapor TBC diarahkan untuk memperkuat pemahaman PS tentang mekanisme penggunaan dan sosialisasi platform tersebut kepada pasien. Evaluasi implementasi selama tahun 2026 juga menjadi dasar untuk merumuskan strategi peningkatan cakupan penggunaan Lapor TBC secara lebih efektif.
Ardiansyah, selaku ketua pelaksana kegiatan, menyampaikan bahwa pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring dukungan bagi pasien TBC RO. Salah satu agenda yang direncanakan adalah penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk memperkuat jejaring paralegal.
Menurut Ardiansyah, penguatan jejaring tersebut diharapkan dapat membuka ruang dukungan yang lebih luas bagi pasien, terutama ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan pendampingan hukum. Dengan demikian, dukungan komunitas tidak hanya mencakup aspek pengobatan dan psikososial, tetapi juga dapat diperluas sesuai kebutuhan pasien melalui jejaring layanan yang relevan.

Melalui Pelatihan Penyegaran Patient Supporters TBC RO ini, ILS Lampung berharap seluruh PS aktif di 11 kabupaten/kota semakin siap menjalankan peran pendampingan secara profesional, konsisten, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Evaluasi pelaksanaan program selama tahun 2026 juga diharapkan menghasilkan langkah perbaikan yang konkret untuk meningkatkan kualitas pendampingan, memperkuat pencegahan penularan, serta memperluas pemanfaatan Lapor TBC.
Pada akhirnya, penguatan kapasitas Patient Supporters merupakan bagian dari upaya bersama untuk memastikan pasien TBC RO mendapatkan dukungan yang berkesinambungan sejak diagnosis hingga menyelesaikan pengobatan. Melalui kolaborasi antara komunitas, tenaga kesehatan, dan jejaring pendukung lainnya, diharapkan semakin banyak pasien yang dapat menjalani pengobatan secara tuntas dan memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.



































Discussion about this post